Diet Rendah Karbohidrat Tak Baik bagi Jantung

Liputan6.com, Stockholm: Makanan mengandung karbohidrat paling dijauhi oleh orang tengah berdiet. Soalnya, karbohidrat justru akan merusak diet mereka.
Namun, diet rendah kalori justru tidak baik bagi kesehatan jantung. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Swedia selama 25 tahun, diet rendah kalori dikaitkan dengan meningkatnya kadar kolesterol tinggi.
Sebuah program diet yang dimulai sejak 1985 menyarankan orang yang diet untuk menghindari makanan berkarbohidrat. Sebaliknya, diet ini justru menganjurkan konsumsi daging dan lemak dalam jumlah banyak, meski berisiko kadar kolesterol akan meningkat.
Diet berkarbohdirat rendah dan mengonsumsi lemak tinggi memang dapat membantu menurunkan berat badan secara cepat. Namun, diet cara ini justru menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius; kolestrol tinggi dan risiko kardiovaskular.
Ingegerd Johansson, profesor dari Universitas Gothenburg, Swedia, yang memimpin penelitian, mengatakan, “hubungan antara gizi dan kesehatan kompleks ini melibatkan komponen makanan tertentu. Interaksi antara komponen-komponen makanan, serta interaksi dengan faktor genetik dan kebutuhan individu”.(Telegraph/ULF)

Cara Mengenali Obat Palsu

Rabu, 13/06/2012 15:51 WIB

AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

Jakarta,Obat palsu kadang sulit dideteksi karena memang susah dibedakan dari versi aslinya, apalagi hanya dengan kasat mata. Sebagai antisipasi agar tidak tertipu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan tips mengenali obat palsu.

Meski tidak selalu berhasil, obat palsu bisa dikenali dari beberapa ciri fisik yang berbeda dari obat aslinya. Direktur Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga, Drs Roland Hutapea, MSc, Apt mengatakan, ciri-ciri yang dimaksud antara lain sebagai berikut.

1. Tablet mudah hancur
Untuk mendapatkan untung yang lebih besar, para pembuat obat palsu biasanya akan mengorbankan kualitas. Tablet yang rapuh dan mudah hancur merupakan ciri-ciri obat yang kualitasnya di bawah standar, yang artinya obat tersebut kemungkinan besar palsu.

2. Kemasan berbeda
Perbedaan sekecil apapun yang terdapat pada kemasan obat patut dicurigai sebagai ciri-ciri obat palsu. Selain warna yang terlalu gelap atau terlalu terang, kadang-kadang bentuk tulisan serta ukurannya bisa berbeda dari yang asli.

3. Penandaan mencurigakan
Kejanggalan lain yang sering ditemukan pada kemasan obat palsu adalah penandaan yang mencurigakan, misalnya nomor registrasinya salah atau tidak ada tanggal kedaluarsanya. Kadang-kadang, tanggal kedaluarsa atau expiry date (ED) pada obat palsu tidak tercetak melainkan hanya ditempel.

Namun ditegaskan oleh Roland, ciri-ciri yang disebutkannya tidak bersifat mutlak. Para pemalsu obat selalu berusaha agar obatnya tampil semirip mungkin dengan aslinya, bahkan stiker hologram yang dulu sulit ditiru kini sudah bisa dipalsukan dengan sangat mirip.

“Satu-satunya cara untuk memastikan memang harus melalui uji laboratorium. Hasil pengujian lalu dicocokkan dengan produsen aslinya, apakah benar obat tersebut dibuat oleh pabrik yang bersangkutan,” kata Roland dalam talkshow tentang obat palsu di Kantor BPOM, Rabu (13/6/2012).

Roland juga memberikan tips untuk menghindari obat palsu, antara lain dengan memberi obat hanya di Apotek atau toko obat yang terdaftar. Khusus obat goongan G (gevaarlijk) atau obat keras yang asli harus dan hanya bisa dibeli dengan resep dokter di Apotek, bukan di toko obat.
(up/ir)

 

Tidur, Hormon Pertumbuhan Bayi Bekerja Aktif

 
Tidur memang merupakan momen penting bagi hormon-hormon yang ada dalam tubuh bayi bekerja secara aktif. Saat bayi tidur, sekira 75 persen hormon pertumbuhan dikeluarkan.

“Pada waktu tidur, ada hormon-hormon yang keluar. Ada dua fase, pertama fase Rapid Eye Movement (REM) dan kedua non-REM. Pada kedua fase tersebut, ada banyak manfaatnya. Di saat-saat tersebut banyak hormon yang keluar pada tubuh dan otak bayi,” tutur dr. Rosalina Dewi Roeslani, SpA(K) di Djakarta Theatre, Jakarta, Selasa, 12 Juni 2012.

Hormon-hormon tersebut bertugas merangsang pertumbuhan tulang dan jaringan, serta mengatur metabolisme tubuh, termasuk juga otak bayi. Selain itu, hormon pertumbuhan memungkinkan tubuh bayi memperbaiki dan memperbaharui seluruh sel yang ada di tubuh, mulai dari sel kulit, sel darah, sampai sel saraf otak.

“Proses pembaharuan sel ini akan berlangsung lebih cepat lagi ketika bayi terlelap daripada saat bayi bangun,” jelasnya.

Selama tidur, aliran darah ke otak juga meningkat selama tahap tidur REM atau tahap tidur aktif. Hal ini berperan penting dalam kesehatan psikis bayi dan aktivitas otak bayi, sehingga memungkinkan optimalnya tumbuh kembang otak bayi.

Semakin muda usia bayi, semakin banyak waktu tidur yang dibutuhkan. “Rata-rata bayi membutuhkan waktu tidur sekira 16 hingga 20 jam dalam satu hari,” tutupnya.
(tty)

Menkes Baru, dr. Nafsiah Mboi Sp.A, MPH

Hari ini Rabu, 13 Juni 2012 pukul 11.15 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH sebagai Menteri Kesehatan 2012 – 2014 menggantikan Almarhumah dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH.

Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH adalah dokter spesialis anak yang juga ahli Kesehatan Masyarakat yang telah mengenyam pendidikan di Indonesia, Eropa dan Amerika. Beliau memiliki pengalaman karir panjang sebagai Pegawai Negeri di Departemen Kesehatan (1964-1998), sebagai anggota DPR (1992-1997), dan Pegawai Perserikatan Bangsa-bangsa (1999-2002) tepatnya sewaktu menjabat sebagai Direktur Department of Gender and Women’s Health pada World Health Organization Pusat di Geneva, Swiss.

Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH lahir di Sengkang, Sulawesi Selatan, 14 Juli 1940 adalah lulusan Spesialisasi Dokter Anak  Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tahun 1971. Gelar Master of Public Health diperoleh di Prince Leopold Institute of Tropical Medicine, Antwerp, Belgium, tahun1990.

Beberapa penghargaan yang pernah diperolehnya diantaranya Ramon  Magsaysay  Foundation  Award  for Government Service dari Ramon Magsaysay Foundation, Manila, Philippines (1986), Satya Lencana Bhakti Sosial diterima dari Presiden Republik Indonesia (1989), Fellow of the Australia-Indonesia Institute (1993), Penghargaan dari Asia HRD Congress (2008) dan Penghargaan Soetomo Tjokronogoro yang diberikan oleh PB-IDI (2009)

Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH menikah dengan Brigjen purn Dr. Ben Mboi MPH, mantan Gubernur NTT dan dikaruniai 3 orang putra dan 5 cucu. Dr. Nafsiah memulai karirnya di Departemen Kesehatan sejak tahun 1964.

Beberapa jabatan yang pernah diembannya selama menjadi karyawan Departemen Kesehatan adalah sebagai Kepala Rumah Sakit Umum, Ende, Flores (1964 – 1968), Kepala Seksi Perijinan pada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Prop. NTT, Kupang (1979 – 1980), Kepala Bidang Bimbingan dan Pengendalian  Pelayanan Kesehatan Masyarakat (BPPKM) pada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Prop. NTT, Kupang (1980 – 1985).

Selain jabatan karir, Dr. Nafsiah pernah menjadi Anggota DPR/ MPR RI (1992 – 1997), Ketua Komite PBB untuk Hak-hak Anak (1997 – 1999), Direktur Department of Gender and Women’s Health, WHO, Geneva Switzerland (1999 -  2002) dan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (2006 – sekarang).

Lebih dari 70 karya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris telah dipublikasikan, 20 diantaranya adalah makalah dan artikel.

Dr. Nafsiah dikenal sebagai sukarelawan dan pekerja masyarakat sejak masih berstatus sebagai pelajar. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai aktivis bidang keluarga berencana dan selanjutnya mendedikasikan diri untuk upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia. Komitmennya untuk anti diskriminasi dan kesetaraan dalam masyarakat mengarahkan dr. Nafsiah menjadi aktivis untuk hak-hak azasi manusia, dan menjadi salah satu pendiri Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia, anggota Komnas HAM, dan Wakil Ketua Komnas Perempuan.

Beliau telah terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang menitik beratkan pada pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender, dan hak-hak anak, semua area tersebut dimulai saat memimpin PKK, BK3S, dan organisasi lain, selama 10 tahun bekerja di Nusa Tenggara Timur (1978-1988) saat suaminya menjabat sebagai Gubernur.

Krim Bermerkuri Picu Iritasi Hebat

Penggunaan produk perawatan wajah yang mengandung merkuri dapat dicurigai dari dampak setelah pemakaian. Salah satunya bagi pemilik kulit tipe berminyak akan memicu iritasi hebat, seperti timbulnya jerawat yang tidak biasa dan wajah akan lebih berminyak dari sebelumnya.

“Iritasinya beda dengan iritasi yang hanya dikarenakan tidak cocok saja. Kulit yang tipe berminyak, misalnya, jerawat akan banyak muncul dan wajah akan lebih berminyak dari sebelumnya. Iritasi hebat lah bisa disebutnya. Ada juga yang memerah mukanya, perih, dan gatal-gatal,” ujar Dr. Nenden LS Prabu, SpKK, saat dihubungi Okezone, Jumat (1/6/2012).

Produk bermerkuri dapat dikenali dengan cara memerhatikan bentuk dari krim atau produk yang akan digunakan. Nenden menjelaskan, ciri-ciri produk bermerkuri berwarna putih seperti mutiara dan mengkilap.

Untuk dapat lebih memastikan sebuah produk bermerkuri atau tidak, bisa juga dites dengan menggosokan krim tersebut ke sebuah perhiasan emas. Jika warnanya berubah, patut dicurigai produk tersebut berbahaya karena bermerkuri.

“Tapi tenang saja, warna emasnya berubah hanya sementara saja. Akan berubah ke warna semula. Kalau dites ke yang lain, saya belum pernah coba,” tutupnya.
(tty)

Terlalu Banyak Makan Berlemak Sebabkan Bintitan

Bintitan atau hordeolum merupakan pembengkakan berisi nanah di tepi kelopak mata. Bintitan disebabkan oleh infeksi salah satu folikel rambut yang merupakan tempat asal bulu mata tumbuh. Penyakit ini hampir selalu terjadi di kelopak mata bawah.

Bintitan biasanya matang dan meletus dalam empat atau lima hari. Menggosok dan menarik-narik bulu mata dapat mendorong bintitan, yang mungkin juga terkait dengan peradangan menyeluruh kelopak mata, yang dikenal sebagai blefaritis.

“Bintitan tidak terlalu menginfeksi, namun bisa menyebar dari satu mata ke mata lain. Bintitan biasanya tidak berbahaya dan bisa ditangani di rumah,” tutur Dr. Mirriam Stoppard dalam bukunya Panduan Kesehatan Keluarga.

Seperti jerawat, bintitan pun disebabkan oleh debu yang menempel. Bedanya, jika jerawat terjadi di kulit, bintitan di sekitar kelopak mata.

Bulu mata dapat dibersihkan dengan menggunakan air bersih atau sabun, juga sampo bayi jika sekitar kulit kelopak mata terasa gatal. Tujuannya, agar bulu mata kembali bersih.

Selain itu bintitan juga disebabkan metabolisme lemak. Tak heran jika seseorang terkena beberapa kali bintitan, perlu ditanyakan apakah dia terlalu sering minum susu atau makan telur. Sebab, terlalu banyak makanan tersebut menyebabkan metabolisme lemaknya menjadi tidak benar.

“Dalam satu kelopak mata terdapat sekitar 20 hingga 30 kelenjar lemak, sehingga seseorang bisa terkena bintitan secara berulang-ulang pada kelenjar-kelenjar yang berbeda,” tutup Stoppard.
(tty)